Krisnanews.id – Malang– Dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola desa wisata dan pemberdayaan masyarakat di sekitar destinasi wisata, maka Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan “Rembug Desa Wisata” pada tanggal 17 – 19 Juni di Malang yang diikuti oleh 50 (lima puluh) orang peserta, yang terdiri dari perwakilan unsur kelompok masyarakat pengelola desa wisata se- Jawa Timur dan dinas yang membidangi pariwisata serta _stakeholder_ terkait.
Salah satu agenda pada gelaran “Rembug Desa Wisata” tersebut adalah diskusi dan praktik kepemanduan yang bertempat di Wisata Agro Wonosari, destinasi kebun teh yang legendaris di Malang Raya. Kunjungan lapangan tersebut disambut langsung oleh Manajer Kebun Wonosari, Danang Joko Prasetyo, S.P. di Arjuna Geopark yakni kafe yang dikelola oleh Manajemen Wista Agro Wonosari yang menyuguhkan pesona gunung Arjuna sebagai latar pemandangannya.

“Senang sekali bisa jumpa dengan para pengelola desa wisata dalam agenda kunjungan lapangan ini, kita bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana mengembangkan wisata yang berkelanjutan dan berbasis pada kekayaan alam dan budaya lokal, selain itu kita juga bisa sharing tentang kepemanduan, strategi pemasaran dan promosi wisata bersama teman-teman pengelola desa wisata”, terang Danang.
Sastro, salah satu peserta kunjungan lapangan yang merupakan pengelola desa wisata di daerah Situbondo menyebutkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh pengelola desa wisata saat ini adalah bagaimana cara menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk datang ke desa wisata.
“Membangun dan merawat desa wisata yang kami Kelola selama ini bisa kami lakukan, namun yang menjadi PR adalah bagaimana mendatangkan mereka ke desa wisata kami”, ungkap Sastro dalam sesi diskusi.

“Peluang puluhan ribu pengunjung wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang mengunjungi Gunung Bromo dan Gunung Ijen sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Masyarakat juga dapat berperan untuk mengambil peluang kunjungan tersebut agar dapat mengunjungi desa wisata, tentunya harus didukung juga dengan keterampilan tour guide yang kompeten dan bisa memberikan pelayanan terbaik agar tamu yang datang merasa puas.”, jawab Danang dalam diskusi tersebut.
Rosalia Sandra Jullien,S.I.Kom, Asisten Agrowisata Wonosari yang juga hadir dalam diskusi tersebut menuturkan bahwa untuk bisa menarik pengunjung datang ke obyek wisata yang dikelola antara lain dengan memanfaatkan media sosial, bekerjasama dengan _influencer_ dan media _online_, serta menjalin hubungan baik dengan para _tour agent_.
“Penggunaan media sosial sebagai sarana promosi menjadi salah satu cara efektif untuk memperkenalkan obyek wisata yang kita kelola, selain itu untuk membuat obyek wisata yang kita kelola menjadi viral, perlu juga menggandeng _influencer_ dan media online yang target marketnya sesuai, dan yang tak kalah penting, _good service is a good marketing_, selain memberikan pelayanan prima kepada tamu, kita juga sangat perlu menjalin hubungan baik dan memberikan pelayanan yang baik pula kepada para tour agent yang sering bawa tamu, supaya mereka mau bawa tamu lainnya lagi ke obyek wisata kita”, tutur Rosalia.
Wisata Agro Wonosari sendiri sudah berdiri sejak tahun 1993 dengan keindahan alamnya yang menjadi daya tarik utama yaitu pemandangan kebun teh yang menyejukkan berlatar belakang gunung Arjuno. Selain itu, keunikan yang lain dari Wisata Agro Wonosari adalah terdapat tanaman teh yang berusia lebih dari 100 tahun dan pabrik teh peninggalan Belanda yang dibangun pada awal abad ke-19. Daya tarik dan keunikan inilah yang membuat para wisatawan mancanegara tertarik untuk datang ke Wisata Agro Wonosari sebelum menuju ke Gunung Bromo.
Ketua Panitia Penyelenggara Rembug Desa, Dra. Susiati.MM yang juga Kabid Destinasi Pariwisata Disbudpar Jatim menerangkan bahwa kegiatan tersebut juga merupakan upaya percepatan pemberdayaan masyarakat pengelola desa wisata dengan mengembangkan kekuatan potensi SDM agar mampu menjaga daya saing desa wisata melalui pelayanan prima.
“Kami ingin memberikan dukungan pengembangan sumber daya manusia bagi para pengelola desa wisata agar memiliki kemampuan kepemanduan yang memberikan pelayanan primav sehingga desa wisata yang dikelola dapat menjaga daya saing di tengah munculnya kompetitor,” ungkapnya. (CA)









