Krisnanews.id – Jombang – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kabupaten Jombang memanfaatkan momentum peringatan Hari Kartini untuk memacu peningkatan profesionalisme dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Khususnya bagi para karyawati.
Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran, menegaskan bahwa semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam kesetaraan gender harus diimplementasikan melalui peningkatan kapasitas keilmuan dan kemahiran di dunia kesehatan.
“Kami berharap melalui momen ini para karyawati semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri, baik dari sisi keilmuan, keahlian, hingga profesionalisme dalam pelayanan. Tujuannya, agar mereka tampil sebagai tenaga profesional yang handal dan sejajar dengan rekan kerja pria,” ujar dr. Pudji Umbaran di sela kegiatan peringatan Hari Kartini, Selasa (21/04/2026).
Sebagai langkah nyata, lanjutnya, pihak manajemen RSUD Jombang memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan karier tenaga medis perempuan. Saat ini, mayoritas dokter spesialis di RSUD Jombang merupakan tenaga perempuan atau kaum hawa.

Guna memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat Jombang, lanjut dr.Pudji, maka pihak rumah sakit plat merah ini akan memfasilitasi dan membiayai pendidikan lanjut bagi para tenaga medis melalui anggaran internal.
Pendidikan Sub-spesialis: Manajemen telah memberangkatkan empat dokter spesialis perempuan untuk menempuh pendidikan sub-spesialis.
Peningkatan Strata Perawat: Tenaga perawat yang semula berlatar belakang pendidikan D3 didorong dan disekolahkan ke jenjang S1 hingga S2.
Sektor Non-Pelayanan: Peningkatan kompetensi juga menyasar unit administrasi, termasuk penguatan kapasitas di bidang keuangan dan teknologi informasi (IT).

“Semua lini kami upgrade kualitasnya. Peningkatan strata pendidikan ini berbanding lurus dengan kewajiban kami untuk terus memberikan pelayanan kesehatan prima bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya,” imbuh mantan Kepala DPPKB-P3A Jombang ini.
Dr.Pudji menambahkan, peringatan Hari Kartini tahun ini juga dimeriahkan dengan lomba fashion show busana daerah yang diikuti oleh perwakilan seluruh unit kerja, mulai dari dokter, perawat, hingga staf instalasi terkait.

Meski identik dengan busana Jawa sesuai tradisi Kartini, para peserta dibebaskan mengenakan pakaian adat dari berbagai suku di Indonesia sebagai bentuk apresiasi terhadap keberagaman Budaya Nusantara.
“Kegiatan ini diwajibkan bagi semua unit sebagai wadah apresiasi diri dan melatih keberanian untuk tampil di depan publik. Kami ingin semangat ‘mendobrak’ yang dimiliki Kartini tertanam kuat dalam karakter petugas kesehatan kami,” pungkasnya ramah. (Kr)
![]()











