Krisnanews.id – Jombang – Jejak sejarah Kabupaten Jombang ternyata jauh lebih tua dari yang selama ini diketahui publik. Hal tersebut diungkapkan oleh Binhad Nurrohmat, inisiator diskusi bertema “Prasasti Poh Rinting Titik Awal Sejarah Jombang” yang berlangsung di Mojag Café, Mojoagung, Jombang, kamis malam (14/08/2025).
Diskusi di cafe yang dikelola oleh M.Mansyur tersebut menghadirkan dua pembahas utama yaitu Nona Nur Madina dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang dan Rifatul Hasanah dari TACB Mojokerto.
Dalam forum diskusi tersebut, pria yang akrab disapa Gus Binhad tersebut mengungkapkan, Kabupaten Jombang memiliki dua prasasti kuno yang menjadi bukti tertulis paling awal keberadaan masyarakat dan pemerintahan di kawasan tersebut. Masih kata Gus Binhard, kedua prasasti tersebut ditemukan warga di Desa Glagahan, Kecamatan Perak, dan Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan.
“Kedua prasasti ini sangat penting. Pertama, yang satu dikeluarkan pada tahun 929 M oleh Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang Kamulan, dan yang satu lagi pada tahun 935 M. Hal ini merupakan jejak tertulis tertua yang pernah ditemukan di Kabupaten Jombang,” tegas pria yang juga sastrawan kelahiran Lampung 1 Januari 1976 lalu.
Gus Binhard menambahkan, prasasti yang ditemukan di Desa Glagahan dikenal sebagai Prasasti Poh Rinting, dan menjadi perhatian utama dalam diskusi kali ini
“Menurut saya, ini layak dijadikan tonggak awal sejarah Jombang, karena membuktikan bahwa masyarakat dan tatanan pemerintahan sudah ada sejak abad ke-10,” tandasnya.
Selama ini, lanjutnya, hari jadi Jombang ditetapkan pada tahun 1910, yang merujuk pada pendirian administratif Pemerintahan Kabupaten.
Namun, menurut Seniman nyentrik dengan topi khasnya ini, menilai sejarah Jombang sudah jauh lebih tua dari penetapan tanggal dan tahun administrasi kabupaten Jombang. Untuk itu, seniman berambut gondrong ini mendorong kepada Pemerintah daerah maupun pusat, agar menjadikan penemuan dua prasasti ini sebagai dasar peninjauan ulang terhadap hari jadi Jombang.
“Penanggalan dari prasasti Poh Rinting diperkirakan terjadi pada bulan Oktober tahun 929. Karena ini informasi tertulis, tentu saja nilai sejarahnya sangat istimewa. Apalagi, tidak banyak daerah yang memiliki bukti sejarah se-awal ini seperti Jombang,” jelasnya.
Khusus untuk diskusi kali ini, Gus Binhad bisa segera menjadi langkah awal untuk mengkaji, mendiskusikan, dan mensosialisasikan sejarah tertulis Jombang kepada masyarakat luas.
“Ini bukan hanya soal nostalgia masa lalu, tetapi bagian penting dalam membangun identitas sejarah lokal,” paparnya.
Dengan semakin dikenalnya prasasti Poh Rinting dan Tengaran, imbuh Gus Binhad, diharapkan masyarakat Jombang dapat mengenal kembali akar sejarah daerahnya yang telah tumbuh sejak era Kerajaan Medang Kamulan atau Mataram Kuno di bawah pemerintahan Raja Mpu Sindok. (Kr)











