Krisnanews.id – Jombang – Fakta di balik keberhasilan lonjakan produksi padi 2025, maka Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang berkomitmen tak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga keberlanjutan dan perlindungan bagi para petani.
Kepala Disperta Jombang, Much Rony menyebutkan, bahwa pendekatan pertanian kini diarahkan pada sistem berkelanjutan melalui Budidaya Tanaman Sehat (BTS).
“Dinas Pertanian Jombang tidak ingin produksi meningkat dengan merusak lingkungan. Jadi BTS ini akan menekan biaya produksi sekaligus menjaga agro-ekosistem,” paparnya.

Rony mengungkapkan, program BTS yang dicanangkan pada 10 April 2025 lalu di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, kini memasuki tahun 2026 sudah berkembang menjadi 21 desa model tersebar di 21 kecamatan dengan total luasan sekitar 100 hektar.
“BTS itu tidak membakar limbah, namun mengutamakan pupuk organik, pengendalian hama terpadu, serta pengelolaan air yang baik. Produksi tetap naik, tapi lebih sehat dan ramah lingkungan,” urai Rony.
Perlindungan petani juga diperkuat melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Pada tahun 2025 lalu, luas lahan yang diasuransikan mencapai 973 hektar dengan 1.843 petani terdaftar.
“AUTP ini penting. Kalau terjadi gagal panen akibat banjir atau kekeringan, petani tidak sepenuhnya menanggung risiko sendiri,” papar Rony.
Saat ini, lanjurlt Rony, terdapat pengajuan klaim 32 hektar akibat banjir di Desa Jatigedong kecamatan Ploso Jombang. Selain itu, bantuan benih 6.325 kilogram telah disalurkan untuk lahan seluas 253 hektar yang mengalami gagal panen meski tidak terdaftar AUTP.
Di sektor perkebunan, program bongkar ratoon tebu seluas 3.315 hektar telah dijalankan untuk mendukung swasembada gula nasional. Total produksi tebu mencapai 787.246 ton dengan rendemen rata-rata naik menjadi 7,11 persen.

“Alhamdulillah Produksi gula kristal putih setara 56.009 ton. Data ini merupakan kontribusi nyata Jombang dalam mendukung swasembada gula nasional,” tandasnya.
Tak berhenti di situ saja, bahkan untuk komoditas nilam juga dikembangkan melalui pola kemitraan dengan AFCO Group agar petani mendapat kepastian pasar dan harga.
“Kami ingin petani tidak hanya kuat di hulu, tapi juga di hilir. Ada pasar yang jelas, ada nilai tambahnya,” terang Rony.
Untuk itu, Rony memastikan, hingga tahun 2029 mendatang, seluruh program tetap mengacu pada Asta Cita dan RPJMD Kabupaten Jombang.

“Tujuan akhirnya bukan hanya swasembada pangan semata, akan tetapi untuk kesejahteraan petani yang berkelanjutan,” pungkas Rony. (Kr)
![]()











