Krisnanews.id – Jombang – RSUD Kabupaten Jombang terus menghadirkan informasi yang informatif bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya. Salah satunya yakni berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Baru-baru ini, RSUD Jombang ikut berpartisipasi dalam Program Talkshow “Jombang Interaktif” yang digelar secara rutin oleh Suara Jombang (SJFM) yang berada dalam naungan Dinas Komunikasi setempat.
Kegiatan yang mengangkat tema “Waspada Dislokasi Sendi, Cedera Yang Perlu Diwaspadai” langsung menghadirkan narasumber dr. Yvonne Sarah Katini Bintaryo, Sp.BO.Fics. Yakni Dokter Spesialis Ortopedi RSUD Jombang. Perlu diketahui, dokter Yvonne Sarah Katini Bintaryo merupakan salah satu dokter spesialis ortopedi senior yang bertugas di RSUD Jombang. Menariknya, dokter Yvone merupakan dokter spesialis ortopedi wanita pertama di Indonesia.
Sekedar informasi, Ortopedi merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada diagnosis, perawatan, dan pencegahan gangguan pada sistem muskuloskeletal, yang meliputi tulang, sendi, otot, ligamen, tendon, dan saraf.
Berikutnya, saat berdiskusi interaktif di radio plat merah tersebut, dokter Yvonne menyampaikan pentingnya masyarakat untuk mewaspadai dislokasi sendi sebagai salah satu jenis cedera yang perlu dan patut diwaspadai.
”Sebab dislokasi sendi biasanya dan sering terjadi ketika posisi sendi lepas dari tempatnya. Tentu saja dapat disebabkan berbagai faktor. Seperti akibat kecelakaan atau cedera berat dalam salah satu jenis olahraga. Dislokasi dapat terjadi pada sendi-sendi seperti siku, bahu, pinggul, lutut, PP dan pergelangan kaki,’’ papar dokter penghobi olahraga renang ini.

Dalam dialog interaktif yang dipandu Ninda Ahmad tersebut, berlangsung menarik dan informatif. Wajar saja, sebagai dokter ortopedi pertama di Indonesia, dokter Yvonne juga menyampaikan hal penting mengenai tentang penanganan yang tepat, cepat dan akurat untuk mencegah komplikasi. Seperti kerusakan jaringan sekitar sendi, infeksi, bahkan cacat permanen saat terjadi dislokasi sendi.
Menurut dokter kelahiran Jambi, 20 Agustus 1962 lalu, jika dislokasi tidak ditangani dengan cepat, maka jaringan sekitar sendi dapat mengeras serta membuat reposisi sulit dilakukan tanpa operasi.
Alumnus Fakultas Kedokteran Unair Surabaya ini menambahkan, operasi yang terlambat juga berpotensi menyebabkan kesembuhan yang tidak sempurna dan meningkatkan resiko infeksi.
”Penanganan pertama dislokasi harus dilakukan sesegera mungkin. Harus segera ya. Setelah reposisi, pasien harus menggunakan gips selama 3 minggu untuk memastikan posisi sendi stabil. Selanjutnya, wajib fisioterapi dilakukan untuk pemulihan fungsi sendi,’’ terang istri dr Johny S Erlan SpKK.
Tak lupa mengingatkan, dokter Yvonne juga menyampaikan pentingnya pemahaman individu pasien terhadap kemampuan tubuhnya sendiri. Termasuk juga wajib mentaati dan menjaga pola hidup yang sehat dan aktifitas yang sesuai dengan usia sebagai langkah preventif mencegah cedera.
”Masyarakat juga wajib tahu mengenai pentingnya asupan makanan bergizi. Misalnya seperti vitamin D dan kalsium. Termasuk juga manfaat berjemur untuk mendukung kesehatan tulang,’’ pungkas Ketua Komite Medik dan Ketua Bedah Sentral RSUD Jombang ini ramah. (Kr)











