Krisnanews id – Ngawi – Kabupaten Ngawi kini menjadi salah satu magnet investasi paling menjanjikan di Jawa Timur. Tak lagi sekadar menjadi penopang sektor pertanian, daerah yang terletak di perbatasan Jatim-Jateng tersebut menunjukkan lompatan luar biasa dalam pertumbuhan investasi.
Bukan isapan jempol — jika sebelumnya nilai investasi Ngawi berkisar di angka Rp200–300 miliar per tahun, pada 2021 jumlah itu melonjak drastis menjadi Rp795 miliar. Bahkan hingga Triwulan I 2025, tren positif ini terus berlanjut. Ngawi pun sukses menembus jajaran 5 besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Timur.
Capaian tersebut menjadi sorotan dalam High Level Meeting (HLM) Investasi bertema “Akselerasi Peningkatan Investasi untuk Menciptakan Lapangan Kerja”, yang digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (15/07/2025).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Road to East Java Investment Forum (EJIF) 2025, yang diinisiasi oleh DPMPTSP Jawa Timur dan Bank Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Bupati Ony Anwar Harsono, ST., MH, Ngawi tampil sebagai bintang baru di panggung investasi Jawa Timur. Letaknya yang strategis — berada di jalur penghubung Jawa Timur dan Jawa Tengah, dilintasi Tol Trans Jawa dan rel kereta nasional — menjadikan Ngawi simpul logistik yang sangat potensial.

“Ngawi adalah daerah berbasis pertanian dengan potensi luar biasa dan infrastruktur transportasi yang lengkap. Kami siap menyambut para investor,” tutur Bupati Ony.
Tak hanya itu, lanjut Bupati Ngawi, kini sedang mengembangkan Kawasan Industri Terintegrasi yang ditopang oleh lebih dari 620 ribu tenaga kerja kompetitif, membuka pintu lebar bagi investor dari dalam maupun luar negeri agar bisa masuk ke sektor industri, manufaktur, dan agribisnis.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Ngawi menempati urutan kelima di Jawa Timur dalam hal luas lahan pertanian. Melalui program-program unggulan seperti Reforma Agraria dan Lumbung Pangan Berbasis Modern (PRLB), produktivitas pertanian terus meningkat — menciptakan fondasi kuat bagi ekonomi agropolitan.
Untuk memudahkan proses perizinan, Pemkab Ngawi telah mengimplementasikan sistem layanan digital seperti OSS, PBG, SIPPADU, serta Mal Pelayanan Publik (MPP) yang menyediakan 154 jenis layanan dari 40 instansi. Semuanya dirancang agar investor bisa langsung “gas pol” tanpa hambatan administrasi birokrasi.
“Kami tidak hanya memfasilitasi perizinan, tapi juga mengawal sampai tahap operasional. PERDA RT-RW sudah siap sebagai landasan hukum percepatan pembangunan,” ujar Bupati Ony.
Dengan kehadiran 17 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang kini telah beroperasi di Ngawi, dampak positif mulai dirasakan. Lapangan kerja tumbuh, ekonomi daerah bergerak, dan daya saing lokal meningkat signifikan.
Bupati Ony pun mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk bersinergi membangun masa depan Ngawi yang lebih cerah.
“Mari kita bangun Kabupaten Ngawi menuju masyarakat yang mandiri, berakhlak, makmur, dan berdaya saing berbasis agropolitan. Ngawi siap melesat. Bukan hanya untuk tumbuh, tapi untuk menang!” pungkasnya optimistis. (Agus)











